Oleh: asiaaudiovisualrb09noorhidayah | Juni 16, 2009

11. tari Seudati dari Aceh

Tari Seudati

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Tari Seudati adalah nama tarian yang berasal dari provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Seudati berasal dari kata Syahadat, yang berarti saksi/bersaksi/pengakuan terhadap Tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad utusan Allah.

Tarian ini juga termasuk kategori Tribal War Dance atau Tari Perang, yang mana syairnya selalu membangkitkan semangat pemuda Aceh untuk bangkit dan melawan penjajahan. Oleh sebab itu tarian ini sempat dilarang pada zaman penjajahan Belanda, tetapi sekarang tarian ini diperbolehkan kembali dan menjadi Kesenian Nasional Indonesia.

Tari seudati masuk bersamaan dengan penyebaran agama Islam ke Aceh. Media tari ini dimanfaatkan oleh penganjurpenganjur
Islam dalam pengembangan agama Islam di Aceh. Sebelum seudati, tari ini bernama RATOH yang artinya
menceritakan. Dalam Ratoh ini dapat diceritakan segala sesuatu yang menyangkut aspek kehidupan masyarakat.
Umpamanya : kisah sedih, gembira, nasehat dan membangkitkan semangat.
Penganjur-penganjur Islam yang kebanyakan berasal dari Arab maka secara langsung bahasa atau istilah yang
dipergunakan dalam penyebaran agama dititik beratkan pada istilah bahasa Arab. Maka sekaligus media ratoh ini
dipengaruhi dengan istilah-istilah Arab. Syahadati dan syahadatain menjadi seudati, kemudian saman menjadi
meusaman ( yang artinya delapan ) orang.
Kedua istilah ini digunakan sampai sekarang. Adapula pendapat lain mengatakan bahwa kata seudati berasal dari kata
serasi ( artinya harmonis/serasi ). Dahulu seudati berkembang dikabupaten Pidie dan Aceh Utara, sekarang sudah
berkembang di kabupaten dan kotamadya lainnya dalam daerah Istimewa Aceh.
Dalam penampilannya tari seudati ini dipimpin oleh seorang Syekh (pimpinan). Syekh ini dibantu oleh wakil yang disebut
Apet Syekh. Tari ini ditarikan oleh delapan orang penari dan dibantu oleh dua orang penyanyi sebagai pengiring tari
(Aneuk Syahi).
Dituliskan oleh Taloe (sebuah lembaga kesenian independen non pemerintah) yang eksis menggali dan mengkaji
sejarah kesenian tradisional aceh serta peduli terhadap pembangunan kesenian aceh.seudati1


Kategori

%d blogger menyukai ini: